Thursday, 20 December 2012

IBU KOTA SRIWIJAYA AWAL ADALAH MINANGA KOMERING,komering is part of lampung ethnic

MINANGA KOMERING Asal Kerajaan SRIWIJAYA Minanga komering, Ogan komering ulu timur. di perkirakan Asal Kerajaan SRIWIJAYA Nama Minanga ( Komering Ulu Sumatera Selatan ) sebagai nama tempat sudah ada semenjak sebelum Van Rokel membaca prasasti kedukan bukit tahun 1924. Oleh karena itu nama Minanga di Komering Ulu itu bukanlah mencontoh kebesaran nama dalam prasasti kedukan bukit. Ini terlihat dalam suatu piagam perjanjian tahun 1629 dengan mamakai tulisan Arab-Melayu oleh kesultanan Palembang yang pada waktu itu di berkuasa Sedaing Kenayan mengenai tapal batas Marga Minanga. Piagam tersebut masih tersimpan sebagai dokumen Marga Semendawai Suku III. Minanga yang kita identifikasikan sebagai ibukota Sriwijaya sekarang adalah merupakan nama dua buah desa yaitu desa Minanga Tengah dan desa Minanga Besar . Desa Minanga sekarang terletak di daerah rawa-rawa dataran rendah. Daerah yang agak tinggi permukaannya mengelilingi desa-desa tersebut yaitu di sebelah hulu sungai disekitar daerah Betung (dahulu bernama Kedaton) di sebelah barat ada dataran tinggi yang membentang sampai ke batas Kedaton dan sungai Ogan. Jadi bahwa kawasan Minanga berada di antara dua daerah yang bernama Kedaton yang berada di pedalaman Sumatra Selatan di pinggir Sungai Komring. Ada yang menarik tentang nama-nama tempat sebagai petanda monumen sejarah yang terdapat di Desa Minanga Komring Ulu dengan menamai kampungnya dengan nama-nama yang memberi kesan seolah-olah tersebut ada bekas pusat suatu pemerintahan antara lain : Kampung Ratu — Menggambarkan komplek Perumahan para Raja-raja Kampung Kadalom — menggambarkan adanya kompleks perkampungan para abdi dalam. Kampung Balak — berasal dari kata Bala atau Laskar kedaton Kampung Binatur — berasal dari kata Batur yang berarti pelayan keraton Pasar Malaka — yang sekarang merupakan ladang penduduk yang di yakini oleh penduduk setempat dahulunya merupakan tempat orang memperdagangkan barang dagangan dari Malaka. Nama nama tersebut sudah ada sama tuanya dengn nama Minanga komring ulu yang sudah ada sejak sebelum tahun 1629 Masehi Kemudian di kawasan Minanga ini banyak sekali kita jumpai Makam Kuno ( makam keramat ) lebih kurang terdapat 15 makam kuno sepanjang uluan sungai komring yang di kenal dan di percayai oleh penduduk setempat merupakan makam Raja-Raja maupun panglima perang jaman dulu yang menjadi keramat bagi desa desa sekitar. Antara lain : Pu-Hyang ( Puyang ) Ratu Kadi yang berarti Pangeran Mahkota Pu-Hyang ( Puyang ) Naga Brinsang yang berarti Raja Naga Ajaib. Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Alam Basa Berarti Raja Alam berasal dari Dewa. Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Randah ( Randuh ) yang berarti Raja yang dapat berpndah- pindah tempat. Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Ranggah yang berarti raja banyak Cahang. - Pu-Hyang ( Puyang ) Marabahu ( diucapkan Marbau ) yang berarti Raja yang berkali-kali mati dan hidup kembali. - Tan Junjungan ( Puyang Tan Junjungan ) yang berarti panglima yang penuh sanjungan. - Tan Adi ( Puyang Tan Adi ) yang berarti Panglima Utama - Tan Aji ( Puyang Tan Aji ) yang berarti Panglima Raja - Tan Mandiga ( Puyang Tan Mandiga ) yang berarti Panglima yang ampuh. - Tan Salela ( Puyang Tan Salela ) yang berarti Panglima yang menarik hati - Tan Robkum ( Puyang Tan Robkum ) yang berarti Panglima yang tahan rendam dalam air. - Tan Hyang Agung ( Puyang Tihang Agung ) yang berarti Panglima dewa Agung - Tan Minak Batara ( Puyang Minak Batara ) yang berarti panglima turunan Raja - Tan Mahadum ( Puyang Mahadum ) yang berarti panglima penyelamat. Jarak Minanga dengan Pantai timur sekarang jika di tarik lurus horizontal lebih dari 100 Km. Karena Minanga berada di pinggir sungai yang sekarang di kenal dengan sungai Komring maka penduduknya di sebut orang Komring. W.V. Van Royen dalam bukunya “ De Palembang Sche Marga ( 1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ . Nama sungai Komring sendiri diambil dari nama seorang yang berasal dari India yang bernama Komering Singh ,makam nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua , sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari Muara Selabung yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring . Menurut sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( 1979 ) Jelma Daya kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu adalah kelompok Samandaway. Samandaway berasal dari kata Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai. Pada tahun 1974 telah ditemukan sebuah arca Budha yang terbuat dari Perunggu ukuran tinggi ±35 cm, tebal 11 cm di temukan 15 km dari desa Minanga yang di temukan tidak sengaja oleh petani setempat yang kemudian menjadi barang koleksi pribadi mantan bupati OKU pada saat itu. Minanga hanyalah monumen sejarah dalam bentuk nama tempat, tapi kawasan Minanga purba adalah begitu luas yaitu paling sedikit sebesar Marga Semendawai Suku III dan di sebelah barat berbatasan dengan daerah Kedaton ( Ogan Ulu Sumatera Selatan ). Karena langka nya peninggalan Sriwijaya dalam bentuk benda kepurbakalaan di manapun termasuk di daerah Minanga ( Komring Ulu sumatera selatan ) maka alternative lain yang harus di cari identitasnya ke dalam nilai-nilai Budaya dimana salah satu aspek budaya yang penting dan masih menonjol adalah Bahasa . : “ Bahasa adalah alat utama Kebudayaan. Tanpa Bahasa kebudayaan tidak mungkin ada. Kebudayaan tercermin dalam Bahasanya. ( S Gazalba 1966 : 102 ) “ Seperti di utarakan di muka bahwa rumpun Seminung mempunyai bahasa dan tulisan sendiri. Orang Rumpun Seminung tergolong suku Malayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Malayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. Bahasa Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, dan prasasti lainnya dalam periode Shi-Li-Fo-Shih ( 670 s.d 742 Masehi ) adalah bahasa Malayu Kuno dan kausa katanya banyak yang tertinggal dalam bahasa Rumpun Seminung ( Komering, Daya,Ranau, Lampung ). Sebagai perbandingan kita mengambil contoh adalah prasasti Telaga Batu : menurut bacaan dan terjemahan Prof.Dr.J.G. de Casparis dalam bukunya “ Selted inscription from the 7 th to the 9 th century A.D (1956)” . Prasasti itu terdiri dari 28 baris dengan jumlah ±709 kata-kata yang sudah terbaca, dari kata-kata tersebut terbentuk ±311 bentukan kata yang tidak kurang dari 50 kata yang terbukti di pakai dalam bahasa Komering (Rumpun Seminung). Antara lain sebagai berikut : Bahasa Sriwijaya Bahasa Komering Indonesia (Prasasti Melayu Kuno) - Awai - Awai - Memanggil - Dangan - Jongan - Cara - Hulun - Hulun - Orang asing - Inan - Inan - Biarkan - Katahuman - Katahuman - Tertangkap tangan - Labhamamu - La(m)bahanmu - Tempat tinggalmu - Mulam - Mulang - Kembali - Mancaru - Macuaru - Mangacau/menghianat - Muha - Muha - Angap ringan / boros - Muah - Muah - Lagi / Masih ada - Marpadah/Padah - Mapadah/Padah-Tanggulangi / Andalan - Pira - Pira - Berapa - Puhawam - Puhawang - Pawang / Peramal - Ri - RI - Bersama - Sarambat - Sarambat - Setangkai - Talu - Talu - Kalah / tunduk - Tapik/Manapik - Tapik/Manapik - Menghindar/elak/serang - Tuhan - Tuhan - Milik Tidak teridentifikasinya Minanga Komring Ulu sebagai ibukota Sriwijaya selama ini di karenakan : 1. Para ahli sejarah tidak mengetahui bahwa ada Minanga di daerah Komering Ulu Sumatera Selatan yang berada di Muara Sungai di tepi Pantai pada waktu itu, sehingga orang mencari Minanga di luar Sumatra Selatan di dasarkan kepada semata-mata kesamaan bunyi dan penggantian huruf. 2. Penelitian Geomorfologi semata-mata di tujukan hanyalah penelitian kedudukan Jambi dan Palembang apakah berada di tepi pantai atau tidak pada jaman Sriwijaya 3. Minanga dalam Prasasti kedukan bukit di satukan dengan kata Tamvan sebagai Toponim (nama tempat ), Minanga yang tersebut dalam prasasti kedukan bukit di tafsirkan sebagai daerah yang ditundukkan oleh sriwijaya hanya semata-mata untuk memperkuat Palembang sebagai ibukota Kerajaan.. 4. Para ahli sejarah hanya mau mengakui sesuatu atau mengarahkan penelitian pada suatu tempat kalau sudah ada bukti arkeologis di ketemukan lebih dahulu, sedangkan sumber sejarah bukan terletak kepada benda arkeologis semata, tetapi juga dalam bentuk ciri-ciri budaya, bahasa dan lain-lain peninggalan kebudayaan masa lampau yang dapat di jadikan petunjuk awal. 5. Karena tidak di ketahui bahwa Minanga ada di Komering Ulu Sumatera Selatan maka ia tersisihkan dari obyek penelitian sehingga tidak di temukan benda-benda yang bersifat arkeologis. Benda-benda arkeologis itu hanya di tunggu atau di harapkan untuk di ketemukan secara kebetulan seperti yang kita alami sekarang. Berikut merupakan Arca yang di temukan di MINANGA KOMERING OKU, secara tidak sengaja oleh warga setempat. sayangnya letak dari MINANGA KOMERING berada di pedalaman di pesisir sungai komering, sehingga para arkeolog dan ahli sejarah tidak mengetahui keberadaan minanga komering. sehingga luput dari obyek penelitian. Sumber \: By Agung Arlan Posted 2nd May by Aditya Pambudi Labels: sejarah sriwijaya wilayah sriwijaya kekuasaan sriwijaya minanga asal kerajaan sriwijaya minanga komering sriwijaya Aditya pambudi BELITANG Informasi seputar Cultur sosial masyarakat OKU Timur dan suku komering SUMSEL. Budaya pantun Komering Ombai Akas lagu daerah sumatera selatan komering Komering is etnic from proto melayu Bahasa Suku Komering Sumatera selatan Investasikan uang anda dengan modal Rp.25.000 di Investhemat.com INVESTASI HEMAT HANYA 25RB HASIL MELIMPAH Objek wisata budaya OKU Timur Asal usul nama daerah di wilayah OKU Timur Sumatera Selatan Mencari ’Biduk’ di Sungai Komering AYO WISATA BUDAYA KOMERING, South sumatra INDONESIA Kata Kata Kasar dalam Bahasa Palembang sumatera selatan MINANGA KOMERING Asal Kerajaan SRIWIJAYA Nesto rapper bangsat, lirik Angkata 45 palembang hip hop suku KOMERING asli indonesia Kenapa cowok suka cemburu tidak jelas? Jalan di kota belitang nyak kumoring niku kumoring NESTO lips sync versi SPEED nesto HIP HOP komering Mencegah dari hacker facebook Membuat update status via Nama sendiri belajar bahasa komering palembang sumatera selatan belajar bahasa komering palembang sumatera selatan aditya pambudi, Live Online Television, Web TV Channels Free Music | Download Lagu MP3 Indonesia Gratis Terbaru dan Terpopuler KELAS 12 IPS 2 SMAN 1 BELITANG angkatan tahun 2008-2011 gendig sriwijaya Lyrics88: Lirik Lagu Detik Antara Waktu - Misha Omar Free Music | Download Lagu MP3 Indonesia Gratis Terbaru dan Terpopuler junniferband.blogspot.com cord lirik berhenti berharap sheila on7 cord lirik lagu buat aku tersenyum sheila on7 cord lirik R.I.P bondan prakoso cord lirik bondan prakoso waktu cord lirik musik kita selamanya bondan prakoso cord lirik lagu bondan prakoso not with me cord lirik lagu garuda di dadaku NETRAL Free Music | Download Lagu MP3 Indonesia Gratis Terbaru dan Terpopuler di aditya pambudi blogsot.com Video Bencana Tsunami aceh 26 desember 2004 December 2nd, 2010 Free Music | Download Lagu MP3 Indonesia Gratis Terbaru dan Terpopuler Free Music | Download Lagu MP3 Indonesia Gratis Terbaru dan Terpopuler Utopia - Mencintaimu Sampai Mati (Indonesian Song) November 27th, 2010 Home - PUTIH TULANGKU Mimpi aneh dan misterius Aditya Pambudi Putra BELITANG Budaya pantun Komering Apa saja yang bisa digali dalam budaya Komering itu? ternyata bila kita mau mendalami budaya suku yang satu ini, ada sebuah budaya yang ternyata sejak dulu sudah sering dilakukan, baik itu diacara-acara keagamaan, sosial, seni, kemasyarakatan ataupun acara-acara rakyat lainnya. Apa budaya itu? budaya itu adalah pantun. Pantun buat orang Komering adalah sebuah seni sastra yang sudah lama berlangsung, Setiap desa dari mulai hulu komering sampai hili Komering semua mempunyai kekayaan dalam berpantun. Pantun juga kadang buat sindiran, motivasi, ledekan, nasehat, gurauan, bahkan juga untuk menentukan status. Pantun dikomering juga seperti yang lain, ada yang sopan, setengah sopan, sampai ada juga yang agak jorok, namun dari beberapa pantun yang saya lihat, kebanyakan masyarakat Komering itu bila berpantun cukup santun. jarang saya dengar ada bahasa-bahasa jorok, kalaupun ada biasanya itu cuma intermeso. Saya sendiri yang ada di Jakarta sering mendengar yang tua-tua bila kumpul dalam sebuah acara gunung batu, berapa kali mendengar mereka berbalas pantun, beberapa hari yang lalu saja, saya ditantang oleh salah seorang "nenek-nenek" Gunung Batu untuk bertanding dengan pantun-pantunya. Terus terang saya kewalahan, karena ternyata persediaan pantun beliau itu cukup banyak, sedangkan saya cuma secuil, wah...kena batunya saya...padahal beliau mau berpantun karena saya pancing dengan pantun yang saya punya, itu juga dari ibu saya. Pantun ternyata juga merupakan budaya yang unik di Komering, Pantun juga kadang bisa menggambarkan kondisi daerah atau tokoh atau penduduk pada masa lalu, bagaimana kehidupan mereka pada saat pantun itu dilantunkan, pantun juga bisa muncul karena adanya sesuatu, misalnya bila anda tidak jadi kawin, siap-siap adan dibuatkan pantung oleh orang yang iseng...hehehhe...sudah banyak orang yang dibikinin pantun karena putus cinta, gagal kawin, ngomong besar, suka jahil. Ada lagi, kalau misalnya anda tokoh masyarakat atau alim ulama tapi kelakuan anda tidak beres, siap-siap saja ada pantun buat anda, makanya digunung batu atau komering lebih baik kita biasa-biasa ajalah, mengalir seperti air, karena kalau kelakuan kita gak beres, wah banyak mata dan mulut siap buatkan pantun yang "manis" sebagai kenang-kenangan untuk kita yang tidak bisa menjaga perilaku, gak enaknya pantun itu bisa abadi dan dingat-ingat orang terus...mudah-mudahan jangan ya para saudaraku terjadi seperti itu....Gunung Batu sendiri, menurut ibu dan kakek saya dulu cukup banyak bertaburan pantun-pantunnya, cuma sayang saja tidak ditulis, padahal kalau ditulis, itu bisa menjadi kekayaan masyarakat Komering. Pantun sendiri biasanya ada yang mudah tercipta ada juga yang perlu persiapan, misalnya dengan mengarang. Ciri dari pantun Komering itu sendiri tidak jauh beda dengan pantun daerah-daerah lain, kebanyakan dengan sistemnya memakai sistem a-b-a-b, jarang sekali saya lihat mereka menggunakan sistem a-a-b-b, atau dengan sistem yang acak, pantun komering bunyinya teratur, pantun komering bagi yang mengerti, kedengarannya cukup unik. Sebaiknya menurut saya kaum muda Komering itu segera mencatat budaya pantun ini, masak kita harus mengikuti cara dulu lagi dengan budaya lisan, khan sudah kita ketahui bahwa banyak orang yang kurang suka dan tidak senang bahkan tidak percaya dengan budaya lisan, makanya kita yang sudah cinta dengan budaya ini harus segera mencatat pantun-pantun itu. Mari kita budayakan pantun komering, dan mari kita jadikan pantun yang ada diforum ini menjadi pantun terpanjang di FACEBOOK...kalau bisa....bagi yang bukan warga Komering, mari kita saling mengenal budaya antar daerah..dengan pantun mari kita tingkat rasa persaudaraan kita sesama anak bangsa.. Terakhir ada pantun nasehat dan sindiran buat kita semua, terutama saya nih... dari kakek-kakek saya dulu icak-icak kayo, tarumpah mih kabolah icak-icak badan gogah, maknaja badan sobah. lampuyang cakak dampan uwol cakak hidangan alu marotok mojong kangkung tumbuh di t.....i (gak enak ah nyebutnya..) Ini betul-betul sindiran buat saya, bukan ditujukan kepada siapa-siapa lho.....wah yang lain jangan tersinggung ya..tahu nih pantun apa bukan ya..hehehe.. http://junniferbelitang.blogspot.com sumber :sejarahgunungbatu.blogspot.com Posted 4 weeks ago by Aditya Pambudi Labels: suku komering bahasa komering komering rumah komering pantun komering Loading Send feedback